Sunday

Menguak Celah Pasar Bisnis Cemilan Sehat

KOMPAS.com- Kebanyakan cemilan mengandung pengawet dan penyedap rasa yang bisa membahayakan kesehatan. Bagi Andriani Kurnia, seorang ibu rumah tangga di Bandung, hal itu justru menjadi peluang bisnis. Dia pun membuat cemilan dengan mencampurkan sayuran tanpa pengawet.

Menguak Celah Pasar

Salah satu tabiat anak yang kerap membuat orang tua jengkel adalah keengganan anak mengonsumsi sayur. Padahal, sayur mayur mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan tubuh. Tak jarang, agar sang anak mau makan sayur, orang tua menakut-nakuti atau malah mengiming -imingi anak dengan sesuatu.

Kesulitan menyuruh anak mengonsumsi sayur juga pernah dialami Andriani Kurnia, ibu rumah tangga asal Sukamiskin, Bandung.

Tak mau mengancam atau mengiming-imingi anak terus menerus, Andriani pun putar otak. Dia pun memanfaatkan kemampuannya membikin kue kering untuk mendorong anaknya menikmati sayur mayur. "Saya coba-coba mencampurkan sayuran ke dalam adonan kue kering," katanya.

Merasa cara dan strateginya berguna, Andriani mencoba membuat kue campur sayuran untuk dijual ke pasar. Tak dinyana, pasar menyambut hangat. Maka sejak Oktober 20081alu, Andriani pun resmi masuk ke bisnis camilan sehat.

Modal awalnya Rp 500.000 yang dia pakai membeli tepung terigu, mentega, keju, telur, dan sayuran. "Saya masih pakai teknologi sederhana, kok," ucap perempuan 32 tahun ini.

Andriani membuat cheese stick. Cara membuatnya sama dengan cheese stick biasa. Hanya saja di tengah tengah proses pengolahan, dia mencampurkan sayuran yang sudah dihaluskan. "Kandungan sayur dalam adonan 40 persen," ungkapnya.

Sejauh ini, Andriani telah menghasilkan enam pilihan rasa sayur, yakni brokoli, seledri, bayam, bit, jagung, dan wortel. Plus satu rasa lagi yang tanpa sayuran, yalumi original cheese.

Andriani mengemas semua varian camilannya dalam plastik mika. Asal wadah itu tak terbuka lama, ia mengklaim kue tanpa pengawet buatannya tahan tiga bulan.

Andriani membuat dua kemasan, yakni kemasan 1 ons dengan harga Rp 3.000-Rp 3.500, dan kemasan 2,5 ons (seperempat kilogram) dengan harga Rp 10.000. la juga menjual camilan dalam bentuk curah. "Harga curahnya Rp 40.000 per kilo," kata isteri Dikdo Maruto ini.

Andriani memproduksi cheese stick sayurannya sekali dua minggu. Sekali produksi, ia membikin 3 kg - 4 kg untuk masing-masing rasa. "Saya hanya dibantu dua karyawan dengan peralatan yang masih sederhana," akunya.

Pasaran produk Andriani memang masih sedikit. Sejauh ini produknya baru dipasarkan di Bandung, Jakarta, dan Jepara. "Ada orang yang pesan produk saya lalu dijual lagi," ucap ibu dua anak ini.

Dari usaha yang dijalani hampir genap satu semester ini, Andriani mengaku baru mengantongi omzet Rp 3 juta per bulan. Setelah dipotong ongkos produksi dan upah karyawan, margin Andriani hanya 30 persen saja.

Marginnya yang kini direguk Andriani memang masih terbilang minim. Menurut Andriani itu karena dia masih menemui banyak kendala beberapa diantaranya seperti proses edukasi pasar yang masih minim.

Selain itu, Andriani belum punya tempat usaha alias outlet sendiri. "Makanya kedepan kalau modal sudah ada, saya ingin membuat outlet penjualan sendiri di tempat yang strategis," ujar Andriani.

Karena usahanya masih rumahan, Andriani mengakui penetrasi pasarnya masih lemah. Terlebih saat ini dia masih dalam tahap menyusun konsep yang tepat terhadap produknya.

Namun Andriani mencatat, prospek bisnis camilan sehat ini bagus. Dia yakin camilan ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang enggan makan sayur atau mereka yang menginginkan camilan sehat tanpa pengawet. Ya, Andriani menjamin camilan bikinannya tidak mengandung bahan pengawet maupun pewarna. (Anastasia Lilin Yuliantina/Kontan)

Source : Kompas.com

0 comments: