Peluang Kerja Sama

Usaha kerja sama one stop business solution, accounting, tax, legal and online business.

Jasa Iklan Google

Tingkatkan omset anda dan penjualan product anda lebih dari 2 x lipat supaya melebihi target saat ini.

Jasa Laporan Keuangan

Jasa laporan keuangan untuk menyusun laporan usaha dan business anda agar dapat mendapat gambaran keadaan perusahaan.

Kerja Usaha Lainnya

Apabila anda memiliki modal maka kami dapat membantu mewujutkan usaha anda.

Kerja Sama Iklan dan Marketing

Tingkatkan omset anda sampai beberapa kali lipat. Hubungi kami sekarang.

Showing posts with label Usaha Ternak Kelinci. Show all posts
Showing posts with label Usaha Ternak Kelinci. Show all posts

Tuesday

Ternak Kelinci Menghasilkan Devisa

Ternak Kelinci Bisa Menghasilkan Devisa :

Prolog :

Setelah saya posting tulisan mengenai Ternak Kelinci, cukup banyak respon yang didapat dari pembaca blog ini, dari sekian banyak pertanyaan, ada sebagian tidak bisa dijawab, karena selain sudah lama tidak beternak kelinci, saya juga tidak tahu perkembangan perkelincian akhir-akhir ini. Untuk menutupi hal itu berikut saya posting sebuah artikel dari Harian Sinar Harapan tahun 2002, mudah-mudahan dapat melengkapi khazanah perkelincian di Indonesia.

Antara Hobi dan Bisnis
Ternak Kelinci
Bisa Menghasilkan Devisa

JAKARTA – Tak ada yang tahu sejak kapan kelinci mulai diternakkan. Konon, di Afrika beberapa abad yang lalu disebut sebagai yang pertama kali dimulainya pemanfaatan kelinci sebagai hewan peliharaan. Kemudian terus berkembang ke kawasan Mediterania sekitar 1.000 tahun yang lalu. Dari hasil peternakan di Mediterania itulah kelinci kemudian mulai menyebar ke daratan Eropa. Kemudian setelah bangsa Eropa memutuskan bermigrasi ke berbagai benua baru yang ditemukan, maka hewan kelinci turut menyebar ke berbagai pelosok dunia. Termasuk di dalamnya penyebaran ke Benua Amerika, Australia dan Asia.


Di Indonesia sendiri khususnya di Jawa, kelinci konon dibawa oleh orang-orang Belanda sebagai ternak hias mulai sekitar tahun 1835. Keberadaan kelinci di Indonesia sempat tidak jelas sejak kedatangan Jepang tahun 1942. Kemudian berlanjut dengan zaman revolusi kemerdekaan sampai tahun 1950-an. Catatan yang ada hanya menjelaskan tentang keberadaan kelinci yang tidak punah pada zaman itu karena ternyata banyak dikembangbiakkan oleh para peternak di daerah pegunungan yang relatif aman dari pertempuran.
Selanjutnya baru pada tahun 1980-an pemeliharaan kelinci sebagai sumber daging mulai digalakkan pemerintah dengan tujuan pemenuhan peningkatan gizi masyarakat. Namun pola pengembangan tersebut tidaklah berjalan mulus. Hal tersebut terjadi karena hanya sebagian kecil peternak kelinci yang bertujuan untuk berdagang dan sisanya hanya untuk kesenangan saja.
Sebenarnya kelinci-kelinci sendiri terdiri dari berbagai macam ras dan jenisnya. Ada ras Alaska yang berasal dari Jerman. Kemudian ras Angora yang sebenarnya berasal-usul kurang jelas. Menurut ceritanya, ras Angora ini pertama kali ditemukan oleh pelaut Inggris yang kemudian membawanya ke wilayah Prancis sekitar tahun 1723.
Jenis ras yang lain adalah American Chincilla yang kemudian dibedakan lagi atas tiga tipe, yaitu tipe standar, besar dan giant alias raksasa. Khusus untuk yang bertipe giant ini bila dewasa bisa berbobot mencapai 6-7 kg.
Sedangkan jenis ras Champagne d’ Argent, yang asli berasal dari Prancis, mempunyai ciri-ciri bulunya berwarna putih perak. Atau jenis ras yang lain seperti Carolina yang merupakan persilangan antara kelinci spesies New Zealand white dan New Zealand red. Ras Caroline ini sangat terkenal di Eropa sebagai kelinci penghasil daging.
Ada lagi jenis ras Dutch yang terkenal di seluruh dunia sebagai jenis kelinci peliharaan. Warna bulunya khas, kerena mempunyai bulu melingkar seperti pelana berwarna putih dari pinggang terus ke leher sampai ke kaki bagian depan. Sebenarnya banyak lagi jenis ras kelinci yang lain, seperti ras Himalayan, Flemish giant, Havana, Lop yang berciri khas mempunyai kuping yang terkulai ke bawah, Polish, Rex, Satin, Silver, Simonoire, Siamese Sable dan banyak lagi yang lain lengkap dengan ciri khas masing-masing.
Di Indonesia sendiri sebenarnya ada jenis kelinci lokal tersendiri. Tapi dimungkinkan jenis kelinci lokal yang ada di Indonesia adalah jenis kelinci berketurunan ras Dutch. Ras ini dikenal sebagai ras asli dari Negeri Belanda, jadi mungkin saja dahulu orang-orang Belanda yang bermigrasi ke Indonesia sempat membawa kelinci ini dari kampung halamannya dan mengembangbiakkannya di sini.
Ras kelinci Dutch ini punya ciri bentuk tubuh yang kerdil, sehingga lazim disebut kelinci mini, merupakan kelinci terkecil di dunia. Biasanya jenis ini dipelihara hanya untuk hiasan dan cocok untuk mainan anak-anak. Dengan bentuk tubuh pendek, kepala agak bulat, bentuk telinga tegak dan mempunyai panjang hanya sekitar lima sentimeter. Biasanya kelinci ini berbulu sangat bagus dan berwarna putih. Sedangkan ciri lainnya mempunyai mata berwarna merah.

Kelinci dalam kandang sebagai ternak untuk dipanen daging dan bulunya.

Memilih dan Memelihara
Sebelum memutuskan untuk memelihara kelinci, ada baiknya kita mengetahui dahulu bagaimana kiat-kiat memilih kelinci yang baik. Bagaimana cara membuat dan mengurus kandang serta bagaimana cara memilih makanannya.
Memilih bibit kelinci yang baik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Biasanya kelinci yang sehat memiliki sifat yang lincah dan aktif, gerakannya energik dan memiliki nafsu makan yang tinggi. Secara umum biasanya bibit kelinci yang baik memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut; pertama memiliki kepala yang sesuai dengan ukuran badan.
Kelinci yang baik bila bertubuh panjang membutuhkan tipe kepala yang panjang pula. Kelinci berbadan besar dan lebar membutuhkan kepala yang besar juga dan begitu pula jenis kelinci bertubuh kecil yang baik adalah yang memiliki jenis kepala kecil juga.
Tipe kepala yang seimbang dan kompak sangat sesuai untuk hampir semua tipe ras kelinci, seperti Dutch, Havana, Standard Chincilla, Lilac dan ras kelinci lainnya.
Kelinci yang sehat juga biasanya bermata bulat bercahaya, selaput matanya bersih, mempunyai pandangan yang cerah dan jernih. Bila pandangan matanya layu dan kurang jernih, itu menandakan kelinci tersebut sedang sakit atau kurang baik kondisi fisiknya.
Lihat juga bagian hidung, moncong dan mulutnya apakah dalam keadaan bersih. Kelinci yang hidungnya basah dan lembab kemungkinan terserang pilek.

Selain bentukan kepala dan wajah bibit kelinci yang baik juga haruslah berkaki normal. Cirinya kuat, kokoh dan berkuku pendek. Lebih baik bila kakinya tidak bengkok atau cacat. Kaki yang cacat berbentuk seperi huruf O atau X, sedangkan kaki yang baik cirinya lurus dan sempurna.
Ciri lainnya adalah berbadan bulat, berdada lebar, padat dan singset. Kondisi seperti ini menunjukkan keadaan fisik yang prima dan bertenaga kuat. Bentuk badan yang kuat juga mencerminkan jumlah daging yang banyak. Sedangkan tambahan referensi lain tentang kelinci yang sehat adalah biasanya berkulit licin dan tidak berasa benjol-benjol bila diraba. Berbulu bersih, licin, halus, mengkilat dan rata. Berdubur bersih, kering dan tidak terdapat tanda-tanda kotoran bekas mencret.
Juga lihat ekornya. Bila terlihat ekornya kecil, tumbuh lurus ke atas dan tampak menempel ke punggung serta bentuknya tidak miring atau rebah ke samping/terpuntir berarti memang benar kelinci itu bagus adanya. Dan sebaliknya bila ekor tidak lurus ke atas berarti kelinci tersebut cacat.

Cara Mengangkat
Dalam memelihara kelinci perhatikan juga cara mengangkatnya. Hal ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Perlakuan yang salah bisa menimbulkan hal-hal yang merugikan seperti cacat permanen dan rusaknya peredaran darah. Kebanyakan orang mengangkat kelinci dengan memegang kedua telinganya.
Memang cara ini paling mudah tapi sebenarnya keliru adanya. Telinga kelinci sangat sensitif dan tidak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri. Kalau cara ini dilakukan, otot dan saraf telinga akan rusak. Kerusakan akan lebih parah lagi kalau kelinci yang diangkat meronta-ronta. Posisi kepala akan menjadi miring sehingga kelinci akan cacat seumur hidupnya.
Untuk mengangkat kelinci besar, pegang kulit tengkuk atau punggung dengan salah satu tangan. Begitu terangkat, tangan yang satu digunakan untuk mendukung bagian pantat. Kerjakan pengangkatan itu dengan tenang dan penuh kasih sayang. Sedangkan untuk kelinci yang masih kecil proses pengangkatan dapat dimulai dengan memegang bagian sebelah depan kaki belakang melalui punggung, dan proses selanjutnya sama dengan kelinci dewasa.
Sedangkan masalah kandang untuk kelinci tidaklah terlalu sulit dicari. Sebab kelinci mudah sekali beradaptasi terhadap berbagai bentuk kandang yang disediakan, asalkan kondisinya memenuhi persyaratan kesehatan dan kebutuhan hidup kelinci tersebut.
Apa pun bentuk dan ukuran kandang, asalkan berlokasi baik yang ditandai dengan cukupnya sinar matahari yang masuk menjadi hal pertama yang harus diperhatikan. Hal lainya adalah bersuhu sejuk, memiliki ventilasi sempurna, tempatnya kering, lingkungan tenang dan tak jauh dari rumah.
Lantai kandang dapat dibuat dari kawat, bambu dan kayu atau tanah. Bila memilih lantai dari kawat, ada sebagian yang terbuat dari lembaran papan. Lantai kawat sangat melelahkan otot-otot kaki kelinci. Karena itu, adanya lembaran papan dapat digunakan kelinci untuk beristirahat.
Kandang yang baik haruslah juga memenuhi kebutuhan sarana berupa kotak sangkar, tempat makanan, tempat minum dan perlengkapan lain. Kandang bisa saja di dalam ruangan atau di luar ruangan, terserah kemauan pemiliknya dan tujuan pemeliharannya.

Pangan
Kelinci yang hidup di alam bebas tidak terlalu sulit untuk mengurusi makannya. Selama di tanah masih ada hijauan dan bisa ditumbuhi rumput, biji-bijian dan umbi-umbian, kelinci masih dapat hidup. Sedangkan kelinci yang diternakkan hidupnya terbatas di sekeliling kandang saja. Kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh perhatian dan perawatan peternaknya. Jenis, jumlah dan mutu makanan yang diberikan sangat menentukan pertumbuhan, kesehatan dan perkembangbiakannya.
Makanan kelinci yang baik adalah yang terdiri dari sayuran hijau, jerami, biji-bijian, umbi dan konsentrat. Makanan hijau yang diberikan antara lain semacam rumput lapangan, limbah sayuran seperti kangkung dan wortel, daun pepaya, daun talas dan lain-lain. Sayuran hijau yang akan diberikan pada kelinci ini kalau bisa telah dilayukan dan jangan dalam keadaan segar. Proses pelayuan selain untuk mempertinggi kadar serat kasar, juga untuk menghilangkan getah atau racun yang dapat menimbulkan kejang-kejang atau mencret.
Bentuk makanan lain bisa juga berupa jerami atau rumput awetan yang dipotong menjelang berbunga. Rumput ini dikeringkan secara bertahap sehingga kandungan gizinya tak rusak. Bisa juga berbentuk biji-bijian yang berfungsi sebagai makanan penguat. Sedangkan untuk makanan jenis umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong dan lainnya dapat diberikan kepada kelinci sebagai makanan tambahan.
Konsentrat juga diperlukan dalam tambahan makanan kelinci. Berfungsi untuk meningkatkan nilai gizi yang diberikan dan mempermudah penyediaan makanan. Konsentrat sebagai ransum diberikan sebagai makanan tambahan penguat, kalau makanan pokoknya sayuran hijau. Konsentrat untuk makanan kelinci dapat berupa pellet (makanan buatan dari pabrik), bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ampas tahu atau gaplek.

Potensi Kelinci
Potensi kelinci sebenarnya masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Bukan hanya sebagai penghasil daging, melainkan juga sebagai penghasil bulu, fur (kulit dan bulu) atau sebagai ternak hias.
Menurut informasi dari BLPP Ciawi, Bogor, pasar komoditas kulit bulu kelinci semakin meningkat. Peningkatan terjadi karena santernya kritik yang dilontarkan para pecinta alam dan lingkungan seperti Green Peace terhadap perburuan dan pembantaian satwa liar.
Sebelumnya, bulu untuk pembuatan jaket dan aksesorinya di negara-negara beriklim dingin umumnya menggunakan kulit beruang hasil buruan. Dengan santernya kritik tersebut para produsen jaket kulit lantas berusaha melirik bahan baku lain. Dan kelinci dianggap sebagai salah satu ternak yang bisa menggantikan kebutuhan bulu untuk jaket.
Ada baiknya tujuan pemeliharaan kelinci digunakan untuk diambil kulit bulunya dan bukan dagingnya. Beternak kelinci Rex atau Angora bisa mengahasilkan daging seberat 1,5 kg/ekor. Harga daging kelinci bisa mencapai US$ 1 hingga US$ 1,5 per kilogramnya di AS. Tapi nilai daging tersebut sangat kecil dibandingkan harga kulit kelinci yang bisa laku sampai US$ 8 - 15 perlembar. Setelah disamak harga kulit bulu kelinci bisa mencapai US$ 18 perlembarnya.
Kulit bulu kelinci bisa dipakai sebagai bahan pakaian berbulu, jaket, selendang, tas, dompet, boneka. Satu mantel eksklusif terbuat dari 20-30 lembar kulit kelinci harganya bisa mencapai US$ 3.000. Pasar kulit bulu ini mencakup daratan Eropa, Rusia, Amerika dan Asia Utara. Produsen kulit bulu kelinci antara lain Hong Kong, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan.
Tapi kenyataan yang ada sekarang, potensi tersebut belumlah didayagunakan secara maksimal. Banyak peminat pemelihara kelinci hanya memanfaatkan kelinci sebagai bahan penghibur saja. Padahal bila mau diseriuskan bukan tidak mungkin bisa menjadi sumber penghasilan juga adanya.

Source :
(Sulung Prasetyo S.)
Copyright © Sinar Harapan 2002

Usaha Ternak Kelinci

Ternak Kelinci :
Ternak kelinci adalah salah satu komoditas peternakan yang dapat menghasilkan daging berkualitas tinggi dengan kandungan protein hewani yang tinggi pula. Di samping sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, ternak kelinci merupakan ternak multi guna. Ternak kelinci dipakai sebagai bahan atau obyek penelitian untuk perkembangan dunia kedokteran dan farmasi. Kelinci juga dipelihara sebagai hewan hias atau kesenangan karena bentuk tubuhnya yang lucu dan juga warna bulu yang beraneka ragam macamnya. Pernahkah terbayang oleh anda bagaimana rasanya melihat kerapan kelici? Kami yakin anda akan terhibur.
Komoditas dari ternak kelinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

Produksi Daging
Seekor induk kelinci mampu melahirkan anaknya 5-7 kali dalam setahun dengan rata-rata jumlah anak per kelahiran antara 5-8 ekor (rata-rata 6 ekor). Apabila terdapat 5 ekor induk kelinci yang bunting bersamaan dan dalam setahun melahirkan bersamaan pula, maka akan dihasilkan jumlah daging yang lebih besar daripada rata-rata produksi tahunan dari ternak potong. Nggak percaya ?
Jika seekor kelinci mampu melahirkan 5-7 kali dalam setahun maka akan diperoleh jumlah anak sebanyak 30-42 ekor anak. Sehingga kalau terdapat 5 ekor induk maka jumlah anak yang dihasilkan sebanyak 150-210 ekor. Sedangkan pada ternak potong dalam waktu setahun akan diperoleh anak satu ekor untuk ternak sapi dan 2-3 ekor untuk ternak kambing atau domba.

Produksi dan Hasil Ikutan
Hampir semua produk dari ternak kelinci termasuk hasil ikutannya dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun melalui suatu proses. Hal ini berarti masih terbuka kesempatan kerja bagi perorangan sebagai home industri atau secara besar-besaran. Berikut rincian produk dan hasil ikutannya dari ternak kelinci:
• Karkas : daging yang dihasilkan berkualitas tinggi, sebagai sumber gizi keluarga. Tak heran di tahun-tahun terakhir ini banyak bermunculan hotplate sate kelinci, bakso kelinci, dan lain sebagainya. Tulang kelinci juga dapat dibuat tepung tulang sebagai bahan pakan ternak.
• Kulit dan kaki : kulit kelinci dapat dipakai sebagai bahan pembuatan topi, jaket, hiasan dinding, tas, sepatu, alas, gantungan kunci dan pelapis perabot rumah tangga.
• Kepala : dapat dibuat sebagai bahan pakan hewan seperti anjing, kucing, dan yang sejenisnya. Sedangkan otaknya dapat dipakai sebagai bahan pembuat vaksin bagi perusahaan farmasi
• Kotoran dan urin : sebagai bahan pembuatan gas methane, media untuk pertumbuhan jamur, sebagai bahan pembuat kompos, dan urin kelinci dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bunga anggrek.

Tinjauan Ekonomi
1. Jumlah rata-rata anak yang dilahirkan per induk per tahun adalah 36 ekor, kalau diasumsikan mortalitas (jumlah kematian) sebesar 30% maka jumlah yang hidup sebanyak 25 ekor.
2. Dari jumlah yang hidup dilakukan seleksi sebagai ternak pengganti (replacement) sebanyak 5-10% (2 ekor), sehingga jumlah anak yang dapat dijual sebanyak 23 ekor. Anak yang dijual dibagi menjadi dua kategori, yaitu dijual sebagai ternak bibit dan ternak potong. Apabila pada saat dijual berat rata-rata mencapai 2 kg, maka :
- jual bibit = 10 ekor x Rp 40.000 = 400.000,-
- jual potong = 26 kg x Rp 10.000 = 260.000,-
sehingga diperoleh jumlah total dari penjualan sebesar Rp 660.000,-
3. Jumlah konsentrat (campuran polard, ampas tahu, dedak halus) yang dihabiskan untuk induk dan anak l.k 300 kg dengan harga per kg Rp 1.500,- maka jumlah pengeluaran untuk pakan sebesar Rp 450.000,-
4. Sehingga nilai keuntungan yang didapat dari seekor induk kelinci per tahun adalah (Rp 660.000 – Rp 450.000) = Rp 210.000 (belum termasuk penjualan hasil sampingan).
Kalau kita melihat keuntungan yang diperoleh, maka kalau kita memiliki 40 ekor induk saja kita bisa meraup keuntungan Rp 8.400.000,- per tahun dan ini berarti keuntungan per bulan (Rp 8.400.000/ 12 bl = Rp 700.000) yang diperoleh sudah atau setara dengan gaji Upah Minimum Regional (UMR) yang ada. Dan yang perlu menjadi perhatian bagi yang berminat usaha ini, usaha ini bukanlah usaha pokok akan tetapi usaha sampingan karena waktu yang kita keluarkan untuk mengurusnya adalah sangat sedikit.

Oleh karena itu kami menyarankan kepada anda yang memiliki modal berlebih, atau yang bingung mau usaha apa, atau yang ingin memberi pekerjaan kepada saudaranya maka tak ada salahnya mencoba usaha ini. Silahkan Anda menghubungi paguyuban atau kelompok ternak kelinci yang ada di daerah anda, KUD setempat atau bisa melalui kami untuk mendapatkan Bibit atau penjelasan lebih lanjut. Selamat mencoba dan semoga kesuksesan selalu menyertai anda.*(SPt)

Source :
Silahkan mengcopy artikel ini dengan menyebutkan sumber :
Sentral ternak juga melayani pesanan kelinci umur 1 bulan, kelinci bibit atau induk, bagi yang berminat silahkan Hubungi : Agus Harianto S.Pt
Phone : (0341) 9127374

Wednesday

Usaha Ternak Kelinci

Jakarta - Berternak bagi sebagian orang mungkin suatu hal yang merepotkan dan sering dipandang tidak menjanjikan sebagai peluang bisnis yang menguntungkan. Padahal apabila jeli, lewat berternak banyak orang yang sukses dibisnis ini.

Yang menjadi masalahnya adalah sejauh mana kita memanfaatkan peluang atau bidang hewan apa yang kita akan geluti untuk dikembangbiakan.

Nah, ini ada kisah pengalaman Dedih pemilik Rabbit Collection yang sudah 10 tahun lalu menggeluti bisnis ternak kelinci. Hasilnya cukup lumayan.

Bermula dari lahan seluas 200 meter persegi dipekarangan rumahnya kawasan Cianjur, Puncak. Ia memberanikan diri untuk membeli 20 ekor kelinci indukan sebagai modal awal usahanya.

Sekarang ini, dari 20 ekor indukan kelinci itu sudah dihasilkan ribuan ekor kelinci yang telah dijualnya dan menghasilan jutaan rupiah yang masuk ke kantongnya.

"Dulu saya memulainya dari 20 indukan, dari 10 induk kelinci jantannya cuma 2, terus berkembang sampai sekarang," ujar Dedih.

Dedih menambahkan sekarang ini setidaknya setiap bulan, ia mampu menghasilkan 300 sampai 400 kelinci yang dijual ke berbagai kota di Indonesia terutama di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya seperti Indramayu, Cikarang, Cirebon dan lain-lain.

Kelinci yang dikembangkan oleh Dedih bukan sembarang kelinci. Tetapi kelinci-kelinci hias yang memiliki daya jual yang tinggi, meskipun ia juga mengembangkan kelinci pedaging khususnya kelinci lokal.

Yang menyenangkan dari beternak kelinci, tingkat produktifitas dari setiap indukan sangat tinggi. Dalam 1 sampai 2 bulan setiap indukan akan bisa hamil kembali dengan jumlah anak kelinci setiap kelahirannya mencapai 1 lusin lebih. Dalam usia 2,5 bulan kelinci-kelinci sudah siap dijual kepasaran.

"Kawin dalam sebulan bisa terjadi, keluar dari masing indukan paling banyak 13 sampai 14 ekor, paling jelek 5 atau 6 ekor," ujar Aditya Eka Yulian salah seorang rekan Dedih.

Harga kelinci hias yang Dedih jual bervarasi. Kelinci Anggora yang harga termurahnya Rp 100.000, kelinci Giant harga termurah Rp 150.000, kelinci Rax Rp 250.000, kelinci Fuzilup Rp 300.000 dan kelinci lokal yang hanya 50.000.

Dedih mengaku omset usaha ternak kelincinya bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Dengan memiliki 4 karyawan yang setia membantunya, ia berhasil menjadi wirausahawan yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Untuk memulai bisnis ini, menurut Dedih tidaklah susah. Yang penting adalah ketelatenan dari peternak, selain itu juga jangan lupa untuk terus menimba wawasan mengenai kelinci terutama dalam hal persilangan spesies kelinci.

Dedih merinci, dengan bermodal 20 ekor kelinci indukan, yang harga per ekornya mencapai Rp 500.000 sampai Rp 700.000 per ekornya, ia sudah bisa memulai bisnis ini. "Memilih indukan yang baik itu sangat penting," pesannya.

Namun jangan lupa, untuk investasi ini juga harus menyiapkan lahan dan kandang yang cukup sebagai
tempat untuk berternak. Untuk kandang bisa membuat kandang yang sederhana yang terbuat dari kayu dengan sirkulasi yang cukup dan luas penampang yang memadai.

Dengan modal kira-kira Rp 15 juta untuk indukan dan kandang sebenarnya sudah bisa memulai bisnis ini. Sedangkan untuk urusan pakan tidak harus pusing-pusing karena dengan rumput-rumput layu sudah bisa membuat kenyang para kelinci.

Bagi yang tinggal diperkotaan tidak perlu khawatir, Anda bisa memanfaatkan sisa-sisa sayuran dipasar seperti daun jagung bisa menjadi pilihan pakan yang digemari kelinci.

"Ternak kelinci biasanya terkendala dengan angin dan hujan, kelinci-kelinci bisa kembung. Enggak usah diberi makanan yang masih segar, justru yang harus layu kalau seger mencret," timpal Aditya.

Dikatakan Aditya, untuk merawat kelinci tidak rumit, yang penting kebersihan kandang menjadi nomor satu. Mengingat kelinci sangat rentan dengan penyakit-penyakit yang disebabkan lingkungan yang kotor.

"Kebersihan kandang utama, sehari sekali harus dibersihkan, penyakit yang paling sering menyerang hanya korengan, itu kalau kandangnya tidak bersih," jelas Aditya.

Dedih dan Aditya mengatakan bahwa prospek pasar kelinci di Indonesia cukup bagus. Terlebih lagi, sekarang ini hampir semua usia dari anak-anak hingga orang dewasa menggemari kelinci termasuk kelinci hias.

Bagi yang mengembangkan kelinci lokal untuk pedaging, tidak masalah sebab sekarang ini permintaan kelinci lokal dari restauran-restauran cukup tinggi terutama untuk sate kelinci.

Tertarik untuk menggeluti ternak hewan imut-imut ini, silakan hubungi:

Dedih dan Aditya Eka Yulian
Rabbit Collection
Jl. Pasir Kampung Sukatani, Pacet
Cianjur Jawa Barat

HP 085624687993(hen/ir)

Source : Detik.com